31.12.10

Dear Nells

Dear Nells

Ini aku sahabat lamamu, Renata. Sudah hampir 46 tahun bukan? Aku sangat merindukanmu-kau tahu? Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau sehat-sehat saja? Maaf selama ini aku tidak pernah mengirim surat ataupun sekedar memberi kabar padamu. Aku hanya sibuk-menata kembali dunia dan hatiku.

Sahabat lamaku, apa kau masih ingat apa yang dikatakan Bu Diah kepada kita? Iya Bu Diah, guru sejarah kita sewaktu SMA. Apa kau ingat beliau pernah berkata 
Keajaiban itu nyata. Kau harus mempercayainya, karena hanya dengan itu dia akan menghampirimu

Aku ingat kita terobsesi dengan kata-kata Bu Diah. Hampir setiap waktu kita membicarakannya. Bahkan, kita pernah dihukum berdiri di luar oleh Pak Sis karena berbisik-bisik tentang itu. Aku bahkan tidak bisa berhenti tertawa ketika mengingatnya. Kita berdiri dengan satu kaki sambil memegang kedua telinga. Sungguh hal yang konyol.

Sahabatku, apa kau ingat tentang J? Ya, orang yang selalu kukagumi.
Ingatkah kau aku pernah berkata bahwa dialah keajaibanku? Aku tahu itu konyol, tapi aku tahu kau percaya padaku. 
Ingatkah kau bagaimana aku diam-diam memandanginya dari balik jendela kelas?
Ingatkah kau tentang rona merah yang menjalari pipiku tiap kali dia berjalan melewatiku?
Ingatkah kau bagaimana gilanya aku yang rela dihukum berdiri di tengah lapangan hanya agar dia berhenti sejenak untuk memandangku?
Ingatkah kau tentang mimpi-mimpi gilaku tentangnya di setiap malam?

Aku tahu segala tentangnya, bahkan setiap detail kecilnya. Aku tahu merek jam tangan yang dipakainya. Aku tahu apa lagu favoritnya. Aku tahu dia sangat suka warna merah-setiap senin dia selalu menggunakan jaket merah kesayangannya Aku tahu nasi goreng adalah makanan favoritnya. Aku tahu dia tidak suka eskrim. Aku tahu kebiasannya menyisir rambut dengan tangan ketika dia gundah. Aku ingat semuanya, aku mengingatnya sampai aku menangis.

Aku ingat betapa nyeri hatiku saat ketika hari kelulusan tiba, bahkan saat diriku dinobatkan sebagai siswi teladan, nyeri itu masih tetap ada.
Aku tidak mau mengingat ketika kau akhirnya memberanikan diri memberitahunya tentang perasaanku. Dia menjawab sambil tertawa
Renata? Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Dia bukan siapa-siapa, bukan?

Kau tahu? Hatiku remuk mendengarnya. Pecah lebih dari berkeping-keping. Terlalu sakit, hingga aku tak bisa lagi merasakannya.

Sejak saat itu akhirnya aku memutuskan mengambil beasiswa doktor di Singapura. Aku bertekad untuk menunjukkan bahwa aku lebih dari sekedar bukan siapa-siapa. Sekali lagi, aku melakukan semua itu untuknya.

Dan akhirnya, 11 tahun kemudian setelah berhasil meraih gelar doktor dan hidup mapan, aku kembali ke Indonesia. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku bukan Renata yang dulu. Aku sudah lebih dari hanya sekedar bukan siapa-siapa. Aku ingin mengutarakan perasaanku kepadanya., Nells. Perasaan yang selama ini menghantuiku, menyentakkanku dalam kerinduan luar biasa.

Saat itu aku berusia 31 tahun. Perlu waktu 2 tahun untuk mencari alamat di mana J tinggal. Dan akhirnya, dengan berbekal secarik kertas berisikan alamat J, aku membulatkan tekad untuk pergi menemuinya. Orang berkata bahwa aku tidak mungkin bisa mengenali orang yang hampir 13 tahun tidak kutemui. Namun satu hal yang membuat aku yakin, matanya. Aku tidak pernah mampu melupakannya, kedua mata hitam yang mampu membuatku berhenti bernafas untuk sekian detik.

Saat aku mengetuk pintu rumahnya, sesosok pria membukakan pintu bergaya Belanda. Dan aku berhenti bernafas…

tapi aku tidak mengenal matanya, Nells. Bukan sepasang mata J yang menatapku.

Sejurus kemudian, aku berdiri di sebuah makam bertuliskan Jonas Rusydian. Kakiku bergetar, tidak lagi mampu mempertahankan goyahnya diriku. Serasa aku kehilangan tombak yang selama ini menyanggaku. Serasa ada gelombang yang menghisapku ke dalam pusaran hitam kesedihan. Aku menangis. Keajaibanku hilang sudah. Penyesalan itu datang bertubi-tubi. Aku menyesal tidak datang lebih awal. Aku menyesal 13 tahun lalu tidak menyatakan perasaanku secara langsung kepadanya. Aku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu lagi, bukan?

Aku menenggelamkan kesedihanku dengan terus bekerja. Aku bekerja tanpa henti hingga tak ada lagi ruang kosong dalam kepalaku untuk memikirkan J.

Aku masih sendiri hingga saat aku menulis surat ini padamu, Nells. Saat dimana seharusnya aku duduk santai di atas kursi goyangku, menikmati secangkir teh hangat sambil mendongeng kepada cucu-cucuku yang manis. Saat dimana seharusnya ada seseorang yang menggenggam tanganku, dan berbisik
Aku ingin terus bersamamu di sisa hidupku. Aku tahu kau adalah takdirku

Tapi aku tidak sanggup, Nells. Lubang ini hanya berisikan namanya. Celah jemariku hanya pas oleh genggaman tangannya. Dan sekarang, setelah hidup selama 64 tahun, aku baru saja menyadari satu hal. Mungkin benar J bukanlah keajaibanku. Tapi cintaku padanya-lah keajaiban itu. Cinta tanpa syarat, yang tetap utuh kugenggam hingga saat ini. Aku harap kembali memimpikannya malam ini-sudah 33 tahun ini aku selalu memimpikannya.


with love,
Renata



created by nells :)

3 comments: